← Kembali ke Blog

Essay / Pendidikan

Navigasi PHTC di Bumi Anoa Ketika Yayasan Ummusshabri Tidak Menunggu Proyek

Kisah ketangguhan sebuah pesantren di Kendari yang memilih jalan sunyi namun pasti—bertransformasi secara mandiri saat banyak pihak masih sibuk mengantre proyek pemerintah.

Di balik gemerlap Teluk Kendari yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, ada sudut sunyi yang luput dari pemberitaan. Sementara media massa riuh mengabarkan sekolah-sekolah negeri yang kebanjiran dana segar dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), di sudut lain kota ini berdiri sebuah pesantren yang memilih jalan sunyi namun pasti, yaitu Yayasan Ummusshabri Kendari.

Mari kita tengok sejarahnya sejenak. Pada tahun 1971, batu fondasi pertama yayasan ini diletakkan. Kala itu, Sulawesi Tenggara masih seumur jagung sebagai sebuah provinsi baru. Ummusshabri lahir dari rahim perjuangan yang sama dengan tanah ini. Kini, 53 tahun kemudian, yayasan tersebut tidak sekadar bertahan. Ia bertransformasi dan bergerak mandiri, justru di saat banyak pihak sibuk mengantre proyek pemerintah.

Gedung Lama Yayasan Ummusshabri
Gambar 1 — Gedung Lama Yayasan Ummusshabri
Proses berdirinya Gedung Baru Ummusshabri
Gambar 2 — Proses berdirinya Gedung Baru Ummusshabri

Ketika Ketua Yayasan Bicara Bukan Tentang Kemegahan Fisik

Suatu sore dalam peringatan setengah abad lebih usia yayasan, ratusan orang memadati halaman pesantren. Anak-anak menari, stan eksposisi menggelar, dan para alumni lintas generasi saling melepas rindu. Di tengah riuh rendah acara, semua mata tertuju ke panggung utama saat Dr. H. Supriyanto, MA, MM, M.Pd., Ketua Yayasan Ummusshabri yang juga seorang mantan birokrat senior, menyampaikan pidatonya.

Jujur, kami semua mengira beliau akan memamerkan deretan gedung baru yang mentereng. Ternyata dugaan kami keliru.

“Bangunan boleh berubah, tetapi sejarah tidak boleh dilupakan.”

Kalimat sederhana itu rasanya seperti tamparan halus bagi kita semua. Di era PHTC ini, pemerintah memang menggelontorkan triliunan rupiah untuk merenovasi sekolah, membagikan papan tulis digital, membangun perpustakaan daring, hingga membenahi fasilitas sanitasi. Target nasional pun tercapai. Di Sulawesi Tenggara saja, ada 81 sekolah yang berhasil direvitalisasi dengan kucuran dana Rp122 miliar dari APBN.

Gedung PAUD Yayasan Ummusshabri Kendari

PAUD Sebelum Renovasi
Sebelum
PAUD Sesudah Renovasi
Sesudah

Kita sepakat bahwa program ini sangat krusial. Namun, Ummusshabri mengingatkan kita pada satu esensi yang jauh lebih mendasar: keberlanjutan (sustainability). Bantuan fisik ada masanya. Bangunan akan menua dan keropos. Lalu, apa yang akan menjaga marwah sekolah tetap tegak berdiri saat kucuran dana bantuan itu suatu saat terhenti?

Titik Nadir, Ketika Delapan Guru Mengundurkan Diri

Di sela acara, saya sempat berbincang dengan salah seorang pengurus yayasan. Saya bertanya, “Apa tantangan terberat yang pernah dihadapi yayasan ini?”

Jawabannya seketika menghentikan langkah saya: “Kami pernah berada di titik di mana delapan guru mengundurkan diri secara serentak. Gaji menunggak hingga tiga bulan, dan orang tua murid mulai berbondong-bondong menarik anak mereka.”

Itulah titik nadir Ummusshabri. Namun, di lembah yang dalam itulah momentum kebangkitan justru lahir. Para pengurus sadar betul bahwa mengandalkan uluran tangan bantuan bukanlah sebuah strategi masa depan. Mereka memilih berbenah dari dalam: meningkatkan kapasitas guru-guru muda, merangkul kembali ikatan alumni, dan merancang pengembangan lembaga secara terukur.

“Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya. Pesantren tidak bisa lagi dikelola dengan pola-pola lama. Kita harus berani bertransformasi.” — Dr. Supriyanto

Pesan ini seolah menjadi mercusuar bagi sekolah-sekolah swasta di daerah penunjang atau bahkan 3T, yang barangkali tidak masuk dalam daftar prioritas renovasi pemerintah pusat.

Masjid Yayasan Ummusshabri Kendari

Masjid Sebelum Renovasi
Sebelum
Masjid Sesudah Renovasi
Sesudah

Tiga Tiang Penopang Kemandirian

Jika kita bedah lebih dalam, ada tiga kekuatan utama yang membuat langkah Ummusshabri berbeda:

a. Langkah Awal Memeluk Teknologi

Sejak tahun 2016, jauh sebelum pandemi memaksa kita melek pembelajaran daring, Ummusshabri telah memelopori kelas digital. Ketika banyak sekolah di pedalaman masih berkutat dengan urusan kestabilan listrik, pesantren ini justru sudah mengintegrasikan AI sebagai asisten pembelajaran. “AI hadir bukan untuk menggantikan peran guru,” tekan Dr. Supriyanto. Langkah visioner ini membuahkan hasil; pada tahun 2024, Ummusshabri resmi menjadi madrasah Cambridge dan Oxford pertama di kawasan Indonesia Timur, dengan rasio guru dan murid yang sangat ideal, yakni 1:15 (jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 1:28).

b. Pengembangan yang Organis dan Masif

Mereka tidak sekadar membuka cabang secara instan demi seragam atau gengsi. Pergerakannya dilakukan secara gerilya dan bertahap: mulai dari Punggolaka, Konawe, hingga rencana ekspansi ke Kolaka, Kolaka Timur, dan Buton Tengah. Bahkan, peta jalan ke depan sudah mengarah pada pendirian perguruan tinggi dengan target menjangkau 17 kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara. Sebuah ambisi yang luar biasa bagi sebuah yayasan swasta tanpa bergantung pada dana APBD.

c. Merawat Jaringan sebagai Nyawa

Menariknya, lebih dari 60 persen biaya operasional Ummusshabri bersumber dari sumbangan sukarela alumni dan mitra strategis, sementara sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) siswa hanya menyumbang sekitar 40 persen. Bagi sekolah yang bergerak di daerah dengan akses terbatas, jejaring (networking) adalah urat nadi, dan Ummusshabri berhasil merawatnya dengan sangat baik.

Refleksi untuk Kita, Para Pendidik

Rekan-rekan guru sekalian, kisah dari Kendari ini menitipkan tiga pelajaran penting untuk kita renungkan bersama:

  1. Mari berhenti sekadar menunggu “proyek”. Di lapangan, kita sering kali terjebak dalam pertanyaan, “Kapan giliran sekolah kita yang dapat bantuan?” Padahal, data Kementerian Pendidikan menyebutkan realisasi PHTC di Sulawesi Tenggara telah mencapai 100 persen, yang berarti kuota utama memang terserap habis untuk sekolah-sekolah negeri. Ummusshabri membuktikan bahwa belum mendapatkan giliran bantuan bukanlah akhir dari pelayanan kita.
  2. Tempatkan alumni sebagai aset abadi. Kekuatan sebuah sekolah tidak diukur dari seberapa canggih papan interaktif di dalam kelas, melainkan dari seberapa kuat ikatan emosional orang-orang yang pernah dididik di dalamnya untuk kembali membangun sekolah tersebut.
  3. Mulailah dari langkah kecil yang konsisten. Kita tidak perlu menunggu punya gedung megah untuk memulai perubahan kualitas belajar. Ummusshabri memulainya dari satu batu fondasi pada tahun 1971. Perjalanan panjang selama 53 tahun ini menjadi bukti sahih bahwa konsistensi jauh lebih bernilai daripada sekadar kecepatan yang instan.

Bertahan dan Bertumbuh dalam Hening

Ummusshabri Kendari barangkali bukan pesantren dengan kompleks terbesar di Sulawesi Tenggara. Namun, lembaga ini berhasil memberikan teladan nyata bahwa sekolah di daerah pun mampu memimpin perubahan tanpa harus mendikte atau mendiktekan diri pada proyek pemerintah.

Yayasan Ummusshabri Kendari

Yayasan Ummusshabri Kendari
Yayasan Ummusshabri Kendari

Kita semua tahu bahwa ketimpangan pendidikan di negeri ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Pemerataan guru antara kota dan pelosok belum sepenuhnya ideal, dan program PHTC hadir untuk menjembatani jurang tersebut. Namun, bagi sekolah-sekolah swasta yang belum tersentuh jangkauan tersebut, kisah Ummusshabri adalah sebuah jalan alternatif yang benderang.

Sebagai penutup, mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing: “Apakah sekolah tempat kita mengabdi saat ini akan tetap kokoh berdiri jika seluruh bantuan dari pemerintah tiba-tiba dihentikan esok hari?”

Jika di dalam hati kita masih ada keraguan untuk menjawabnya, mungkin ini saatnya kita belajar dari ketangguhan Bumi Anoa. Mari kita mulai dari sekarang. Dari dalam ruang kelas kita, dan dari komunitas kecil yang kita rawat dengan hati. Sebab acap kali, hal yang paling menginspirasi bukanlah siapa yang paling megah berdiri, melainkan siapa yang paling tangguh bertumbuh dalam keheningan.